About Me
FollowersHTML/JavaScript |
kupu-kupu :)
your life is a choice--what would you choose?
| Pertamina vs Komisi VII DPR | 7:18 PM |
|
comments (2)
Filed under:
indo
|
|
Udah kyk perang dunia ke3 aja. Semakin lama semakin panas... dan tidak berujung.
JAKARTA - Sikap Komisi VII DPR yang menghardik PT Pertamina bisa berimbas luas. Tidak hanya memperkeruh hubungan yang seharusnya berjalan harmonis, namun juga bisa mencoreng citra Pertamina di mata internasional.
"Ini amat disayangkan, kejadian yang baru pertama kali di saat semua pihak berusaha untuk mencari mitra strategis. Apalagi dampak krisis global, cari investor begini kan sulit, Bagaimana mau menyaingi perusahaan kelas dunia setaraf Petronas, Exxon dan lainnya," saat berbincang dengan pengamat perminyakan Kurtubi, saat dihubungi okezone, di Jakarta, Selasa (17/2/2009).
Dia menambahkan, seharusnya Pertamina tidak menjadi satu sikap yang berlebih dalam merespons tragedi Senin 16 Februari sore kemarin. Terlebih anggota DPR merupakan perwakilan rakyat yang kritis. Jadi jika terdapat sedikit kata-kata yang "menyentil, dia menilai satu hal yang wajar.
"Ini baru kejadian pertama kali yang saya lihat dan cukup menarik untuk disimak. Ketakutan mulai muncul, di saat Pertamina baru pertama kalinya memiliki direktur utama seorang wanita. Selain itu pandangan pelaku bisnis terhadap BUMN pasti menjadi tercoreng," ungkapnya.
Sebab, kejadian yang dapat mencoreng citra Pertamina tidak hanya sampai terdengar ke telinga investor dalam negeri saja. Bahkan, lanjutnya, kabar memalukan tersebut bisa bergaung hingga ke luar, sebab banyak media asing yang memberitakan Dirut Pertamina Karen Agustian dijuluki satpam.
"Rapat-rapat sejenis sudah cukup banyak digelar, dan seharusnya jika ada kata yang kurang enak dimaklumi saja. Jangan terlalu dibawa emosi. Kritikan bisa menjadi pemacu positif bagi yang bisa memahami hal tersebut," pesannya.
Sekadar kilas balik, pada 10 Februari kemarin berlangsung rapat dengar pendapat (RDP) yang pertama kali untuk Karen Agustiawan sebagai Karen dengan Komisi VII DPR RI. Rapat tersebutpun diagendakan sebagai 'fungsi pengawasan' yang dilakukan oleh Komisi VII tersebut.
Rapat tersebut dipimpin oleh wakil ketua Fraksi yang berasal dari F PDIP Sonny Keraf, pada kesempatan tersebut rapat dihadari oleh banyak anggotanya. Tampak diantaranya adalah Tjatur Sapto Edi dari F PAN serta Effendy Simbolon dari F PDIP.
Pada kesempatan itu dibahaslah mengenai banyak hal, seperti masalah BBM, maupun produksi hulu Pertamina. Dan pada suatu pembahasan, arah wacana rapat mengalir menjadi flashback kepada proses pemilihan dirut Pertamina.
Saat itu, banyak suara menyeruak yang mempertanyakan ketidakjelasan proses pergantian dirut maupun alasan pergantian dirut.
Keraguan Anggota dewan tersebut semakin 'menjurus', pasalnya, Karen dan Wakil Direktur Utama Pertamina, Omar S Anwar, yang baru pun sama-sama yang merupakan 'wajah baru' di Pertamina.
"Kalau begitu, tidak perlu orang seperti itu untuk menjadi direksi Pertamina. Satpan saja juga bisa kalau begitu," ujar Effendy dengan sedikit mencibir kala itu.
Kata-kata inilah yang membuat Karen yang juga merupakan Direktur Hulu dari Pertamina ini, menjadi sedikit geram. Sehingga, pada sore tadi usai RDP yang diagendakan sebagai jawaban Pertamina atas RDP 10 Februari lalu dengan Komisi VII pun ia sedikit menunjukan emosinya.
"Kita akan kooperatif, apa yang ditanyakan akan kita jawab. Tapi kalau sudah disamakan dengan satpam, sudah keterlaluan," katanya.
Hal yang samapun ternyata dirasakan oleh sekretaris Perusahaan Pertamina Toharso, Iapun berinisiatif untuk mengirimkan surat. Hal ini pun, tetapi sebelumnya, ia telah berkoordinasi dengan bagian legal (hukum) dari perseroan tersebut.
Toharso yang menandatangani surat itu menuturkan, bahwa apa yang dilakukan oleh anggota Komisi VII DPR telah keluar dari subtansi yang telah diagendakan.
"Melanggar tata tertib pasal 110-117," ucap Toharso saat diberikan kesempatan untuk mengklarifikasi oleh Komisi VII, tadi sore.
Hal itupun dibantah mentah-mentah oleh anggota dewan. Bahkan, selanjtunya Sonny yang memimpin sidang kala itu 'mengusir Pertamina' dengan menunda dan menutup rapat hingga jangka waktu yang belumditentukan. "Hingga Pertamina bisa kooperatif lagi dengan DPR," pungkasnya. (rhs)
ekonomi.okezone.com
| Kalung Mutiara | 6:37 PM |
|
Filed under:
renungan
|
|
Terinspirasi dari notes seorg kawan :)
Jenny, gadis cantik, kecil berusia 5 tahun, bermata indah. Suatu hari, ketika ia dan ibunya sedang berbelanja bulanan, Jenny melihat sebuah kalung mutiara tiruan. Indah, meskipun harganya cuma 2,5 dolar. Ia sangat ingin memiliki kalung tersebut, dan mulai merengek kepada ibunya. Akhirnya sang Ibu setuju, katanya : "Baiklah, anakku. Tetapi ingatlah bahwa meskipun kalung itu sangat mahal, ibu akan membelikannya untukmu. Nanti, sesampai di rumah, kita buat daftar pekerjaan yang harus kamu lakukan sebagai gantinya. Dan, biasanya kan Nenek selalu memberimu uang pada hari ulang tahunmu. Itu juga harus kamu berikan kepada Ibu."
"Okay," kata Jenny setuju. Merekapun lalu membeli kalung tersebut.
Setiap hari, Jenny dengan rajin mengerjakan pekerjaan yang ditulis dalam daftar oleh ibunya. Uang yang diberikan oleh Neneknya pada hari ulang tahunnya juga diberikannya kepada Ibunya.
Tidak berapa lama, perjanjiannya dengan Ibunya pun selesai. Ia mulai memakai kalung barunya dengan rasa sangat bangga. Ia pakai kalung itu kemanapun ia pergi. Ke sekolah Taman Kanak-kanaknya, ke gereja, ke supermarket, bermain dan tidur, kecuali mandi. "Nanti lehermu jadi hijau," kata ibunya.
Jenny juga memiliki seorang Ayah yang sangat menyayanginya. Setiap menjelang tidur, sang Ayah akan membacakan sebuah buku cerita untuknya. Suatu hari, seusai membacakan cerita, sang Ayah bertanya kepada Jenny : "Jenny, apakah kamu sayang Ayah ?"
"Pasti, 'Yah. Ayah tahu betapa aku menyayangi ayah."
"Kalau kau memang mencintai Ayah, berikanlah kalung mutiaramu pada Ayah."
"Ya, Ayah, jangan kalung ini. Ayah boleh ambil mainanku yang lain. Ayah boleh ambil Rosie, bonekaku yang terbagus. Ayah juga boleh ambil pakaian-pakaianku yang terbaru. Tapi, jangan Ayah ambil kalungku."
"Ya, anakku, tidak apa-apa. Tidurlah." Ayah Jenny lalu mencium keningnya dan pergi, sambil berkata : "Selamat malam, anakku. Semoga mimpi indah."
Seminggu kemudian, setelah membacakan cerita, Ayahnya bertanya lagi : "Jenny, apakah kamu sayang Ayah?"
"Pasti, 'Yah. Ayah kan tahu aku sangat mencintaimu. "
"Kalau begitu, boleh ayah minta kalungmu?"
"Ya, jangan kalungku, dong. Ayah ambil Ribbons, kuda-kudaanku. Ayah masih ingat, kan ? Itu mainan favoritku. Rambutnya panjang, lembut. Ayah bisa memainkan rambutnya, mengepangnya dan sebagainya. Ambillah, 'Yah. Asal Ayah jangan minta kalungku. Ya?"
"Sudahlah, 'Nak. Lupakanlah, " kata sang Ayah.
Beberapa hari setelah itu, Jenny terus berpikir, kenapa ayahnya selalu meminta kalungnya, dan kenapa ayahnya selalu menanyai apakah ia sayang padanya atau tidak.
Beberapa hari kemudian, ketika Ayah Jenny membacakan cerita, Jenny duduk dengan resah. Ketika ayahnya selesai membacakan cerita, dengan bibir bergetar ia mengulurkan tangannya yang mungil kepada ayahnya, sambil berkata : "Ayah, terimalah ini". Ia lepaskan kalung kesayangannya dari genggamannya dan ia melihat dengan penuh kesedihan, kalung tersebut berpindah ke tangan sang Ayah. Dengan satu tangan menggenggam kalung mutiara palsu kesayangan anaknya, tangan yang lainnya mengambil sebuah kotak beludru biru kecil dari kantong bajunya. Di dalam kotak beludru itu terletak seuntai kalung mutiara yang asli, sangat indah dan sangat mahal. Ia telah menyimpannya begitu lama, untuk anak dikasihinya. Ia menunggu dan menunggu agar anaknya mau melepaskan kalung mutiara plastiknya yang murah, sehingga ia dapat memberikan kepadanya kalung mutiara yang asli.
Begitu pula dengan Bapa di Surga. Seringkali Ia menunggu lama sekali agar kita mau menyerahkan segala milik kita yang palsu dan menukarnya dengan sesuatu yang sangat berharga. Betapa baiknya Allah kita!
| Pendeta dan Wanita | 9:54 PM |
|
Filed under:
renungan
|
|
Suatu hari, seorang pendeta dimintai bantuan oleh seorang wanita malang yg tidak punya tempat berteduh. Karena sangat sibuk dan tak berdaya utk membantu, pendeta itu berjanji akan mendoakan wanita tsb. Beberapa saat kemudian, wanita itu menulis puisi spt ini:
Saya kelaparan ...
dan Anda membentuk kelompok diskusi utk membicarakan kelaparan saya.
Saya terpenjara ...
dan Anda menyelinap ke kapel utk berdoa bagi kebebasan saya.
Saya telanjang ...
dan Anda mempertanyakan dalam hati kelayakan penampilan saya.
Saya sakit ...
dan Anda berlutu menaikkan syukur kepada Allah atas kesehatan Anda.
Saya tidak punya tempat berteduh ...
dan Anda berkhotbah tentang Allah sbg tempat perteduhan abadi.
Saya kesepian ...
dan Anda meninggalkan saya sendirian utk berdoa.
Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah;
tetapi saya tetap amat lapar, kesepian dan kedinginan ...
Puisi ini barangkali membuat wajah kita merah.
Namun bagaimana isi hati Anda yg sesungguhnya, hanya Andalah yg tau.
Tidak perlu memberitau org lain, hanya renungkan sendiri :)
Renungan Harian, 21 Januari 2009
